Masjid Yang bertempat di maurlama kampung 3 Begitu megahnya

Masjid Kampung Maur lama kecamatan rupit.

JEMBATAN GANTUNG MAURY

Pemandangan Indah jembatan Gantung Maury dengan sungai yg Indah, mengubungkan antara maur Lama dengan Maur Baru .

LAPANGAN BADMITON MAUR LAMA KAMPUNG 3

Begitu Lengkap sarana dan prasarana di maury.

IK3M

Ikatan Muda Mudi Maur.

LOGO BARU MURA UTARA

Mimpi menjadi sebuah Kenytaan.

Selasa, 22 April 2014

Cheat Crystal Legacy

Mohon Maap Untuk saat ini silakan ke  Klik

Senin, 21 April 2014

MENANGIS DALAM SHOLAT

   Pernahkah anda menangis dalam shalat? Apakah menangis dalam shalat menunjukkan kekhusyukan shalat kita? Menangis dalam shalat, bisa jadi merupakan salah satu ciri shalat yang khusyuk, yaitu jika menangis itu karena kecintaan terhadap Allah dan karena menyadari betapa kerdilnya kita di hadapan Allah. Tapi menangis dan khusyuk adalah dua hal yang berbeda.

   Tentu kita semua ingin agar dapat khusyuk dalam menjalankan shalat. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa “khusyu” adalah ketenangan, tuma’ninah, pelan-pelan, ketetapan hati, tawadhu’, serta merasa takut dan selalu merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sedangkan Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa “khusyu” adalah menghadapnya hati di hadapan Rabb ‘Azza wa Jalla dengan sikap tunduk dan rendah diri.”

Dengan makna khusyuk seperti di atas, menjadi pertanyaan bagi kita, apakah kita sudah khusyuk dalam shalat? Seperti apakah shalat yang khusyuk itu? Ali bin Abi Thalib memberikan contoh yang luar biasa tentang hal ini. Ketika itu beliau tertusuk anak panah seusai berperang. Beliau meminta para sahabatnya untuk mencabut anak panah tersebut ketika beliau sedang shalat. Ajaibnya, ketika anak panah itu dicabut beliau sama sekali tidak merasakan sakit karena begitu khusuknya shalat yang beliau lakukan. Kemudian beliau baru menyadari bahwa anak panah tersebut sudah dicabut seusai menunaikan shalat.

   Bagaimana dengan kita? Saya yakin, kita semua sangat jauh dibandingkan dengan Ali bin Abi Thalib. Jangkankan untuk seperti contoh tersebut, untuk sekedar tuma’ninah (tenang dan tidak tergesa-gesa) pun masih banyak yang sulit menjalankannya. Kebanyakan dari kita selalu tergesa-gesa dan tidak konsentrasi ketika menunaikan shalat. Tapi anehnya kita dapat berkonsentrasi ketika melakukan tugas-tugas dalam pekerjana kita. Ini menunjukkan bahwa kita tidak menganggap penting shalat. Ketika shalat kita teringat pekerjaan, tapi ketika kerja kita tidak ingat shalat.

   Itulah diri kita yang diliputi dengan kesombongan. Kita seolah tidak membutuhkan Allah. Kita seolah dapat melakukan apa pun. Kita shalat hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Bahkan mungkin ada juga yang sering melalaikan shalat. Gemerlap dunia begitu membius manusia, sehingga melupakan kewajiban shalat. Bahkan kita juga melupakan ibadah sosial kita, yaitu berbagi kepada sesama.

Kita merasa diri kita kuat. Tapi ketika kekuatan itu hilang atau musibah datang, kita baru tersadar bahwa hanya Allah lah tempat kita bersandar. Saat itu kita tampak lemah, dan tiba-tiba menjadi dekat dengan Allah. Kita menjadi rajin shalat. Kita juga menjadi rajin berdoa. Seluruh pikiran kita curahkan ketika shalat, dengan harapa agar Allah mengabulkan doa kita. Bahkan kita juga menangis ketika shalat. Kita menyesal atas kesalahan yang kita buat. Dan kita ingin agar segera terlepas dari musibah tersebut. Itulah makna tangisan kita dalam shalat selama ini.

  Namun menangis yang menunjukkan kekhusukan shalat bukanlah seperti itu. Saat itu kita menangis karena ingat diri kita sendiri. Padahal menangis yang menunjukkan kekhusyukan shalat adalah menangis karena ingat Allah. Menangis karena cinta Allah. Menangis karena sadar akan kekerdilan diri kita di hadapan Allah.

  Rabiah Adawiyah, seorang tokoh sufi dari Mesir merupakan teladan yang paling dikenal dalam hal kecintaannya terhadap Allah. Di saat banyak penghuni negeri (Irak) sedang lupa kepada Allah dan mabuk dengan dunianya, Rabiah Adawiyah siang malam memperhambakan diri kepada Allah. Tatkala larut malam, di saat orang-orang terlelap, Rabi’ah senantiasa menyempatkan diri untuk mengadu kepada Allah. Dengan linangan air mata, ia bermunajat dan mengucapkan syukur kepada Allah atas hidayahNya. Di dalam doanya, beliau menyatakan kecintaannya kepada Allah bukan karena mengharap surga atau takut neraka-Nya. Tetapi semata-mata karena kecintaannya kepada Allah.

   Doa Rabiah yang terkenal adalah, “Ya Allah, bila hamba ini beribadat karena mengharapkan surga-Mu, maka haramkanlah hamba dari surga-Mu. Dan bila hamba-Mu ini beribadat ini karena takut akan neraka-Mu, maka masukkanlah hamba ke dalam neraka-Mu”.
   Ada sebuah video tentang hal ini (menangis dalam shalat). Yang luar biasa, tangisan itu bukan ketika shalat sendirian, melainkan ketika shalat berjamaah. Video tersebut adalah rekaman shalat tarawih di Mesir dengan ribuan jamaah. Setelah ruku’, imam melanjutkan dengan membaca doa qunut nazilah. Begitu larutnya dalam doa, sehingga sang imam sempat terhenti membaca doa qunut, karena tangis yang ditahan. Jamaah yang kebanyakan laki-laki pun tak kuasa menahan tangis.

RINDU KU KEPADAMU YA RABB

Sebuah kitab menuliskan Jangan pernah merindukan sesuatu secara berlebihan,...
karena rindu,
menyebabkan kegelisahan yg tak kunjung padam.
Rindu menghadirkan keluhan,kesedihan dan kehampaan.
Rindu menghadirkan ketakutan dan enggan merelakan.
Jangan menatap apa yg menghancurkan ketenangan hatimu,
kau akan lelah karena bagaimana pun seluruhnya takan mampu kau lihat.

Kerinduan laksana mata pedang yg menghancurkan,
melemahkan...
Biarkanlah hatiku tetap merdeka,
rindu kepadamu membuat kecemasan yg slalu mengitari kalbuku.
Aku yang terjaga mendekap rindu yg tak kan pernah tergenapi.
Jiwaku akan pergi,
kutangisi rinduku padamu...
ketika dada terasa tersengal dan sesak.
Mungkin saja hidup tlah mengunci hatiku,
kunikmati perjalanan dan nikmat Rabb ku....

Ya Rabb,....
Dadaku sesak karena keresahan, 
mungkinkah menjadi kebaikan bagiku? 
Aku melihat gemintang dan teduhnya pepohonan,
tanda kebesaranMu,
segalanya akan binasa mungkin juga kerinduanku yg menyiksa kalbu.
yang tersisa hanyalah wajahMu....

Benamkan kepasrahanku kepadaMU,
meski suaranya menjadi alasan tiap senyuman di bibirku.
Ya Rabb,....
aku ingin merindukannya tidak lebih besar dari kerinduanku padaMU.



* malam-malam ketika aku bertemu denganMu,
meski tak dapat memandang...
sepanjang malam bersamaMu

Sabtu, 19 April 2014

Menggapai Ridha Allah Melalui Orang Tua


Jalan yang hak dalam menggapai ridha Allah melalui orang tua adalah Birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah salah satu masalah yang penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan kepada manusia untuk bertauhid kepada-Nya, Allah Ta’ ala memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya. Dalam surat Al Isra’ ayat 23-24, Allah berfirman:


Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan jangan lah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkatanaan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah,”Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.”
Al Hafidz Ibnu Katsir telah menerangkan ayat tersebut sebagai berikut:
“Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan dengan yang lain. “Qadla” di sini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, wa qadla yakni washa (Allah berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan “wabil waalidaini ihsana” hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.
Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya dalam keadaan lanjut usia, “fa laa taqul lahuma uffin” maka janganlah berkata kepada keduanya ‘ah’ ( ‘cis’ atau yang lainnya). Janganlah memperdengarkan kepada keduanya perkataan yang buruk. “Wa laa tanhar huma” dan janganlah kalian membenci keduanya. Ada juga yang mengatakan bahwa “wa laa tanhar huma ai la tanfudz yadaka alaihima” maksudnya adalah janganlah kalian mengibaskan tangan kepada keduanya. Ketika Allah melarang perkataan perkataan dan perbuatan yang buruk, Allah juga memerintahkan untuk berbuat dan berkata yang baik. Seperti dalam firman Allah Ta’ala “wa qul lahuma qaulan karima” dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang lembut dan baik dengan penuh adab dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang, hendaklah kalian bertawadlu’ kepada keduanya. Dan hendaklah kalian berdoa, “Ya Allah sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi dan mendidikku di waktu kecil,” pada waktu mereka berada di usia lanjut hingga keduanya wafat.” [Tafsir Ibnu Katsir Juz III hal 39-40 Cet. I. Maktabah Daarus Salam, Riyad. Th. 1413H]
Perintah birul walidain juga tercantum dalam surat An Nisa ayat 36, Allah berfirman:
Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesugguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Dalam surat Al Ankabut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir kalau mengajak kepada kekafiran:
Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikutikeduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu.lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Pengertian berbuat baik dan durhaka
Menurut lughoh (bahasa), Al-Ihsan berasal dari kata ahsana –yuhsinu –Ihsaanan. Sedangkan yang dimaksud ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan terhadap keduanya. Menurut Ibnu Athiyah, kita wajib juga mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah, harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang.
Sedangkan uquq artinya memotong (seperti halnya aqiqah yaitu memotong kambing). ‘Uququl walidain’ adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan dari seorang anak kepada kedua orang tuanya yang berupa perkataan yaitu dengan mengatakan ‘ah’ atau ‘cis’, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci dan yang lainnya. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak memperdulikan, tidak bersilaturahmi atau tidak memberi nafkahkan kepada kedua orang tuanya yang miskin.
Berbakti Kepada Orang Tua Merupakan Sifat Baarizah (yang menonjol) dari Para Nabi. Dalam surat Maryam ayat 30-34, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Isa bin Maryam adalah anak yang berbakti kepada Ibunya: Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, yang memberi Al-Kitab (Injil), Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Allah memerintahkan aku berbakti kepada ibuku dan tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku. Itulah Isa putra Maryam, mengatakan perkataan yang benar dan mereka berbantahan tentang kebenarannya.”
Kemudian Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 40-41: “Wahai Rabb-ku jadikanlah aku dan anak cucuku, orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb-ku perkenankanlah doaku.Wahai Rabb kami, berikanlah ampunan untukku dan kedua orang tuaku. Dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.” Lihat juga dalam surat Asy Syu’araa’ ayat 83-87:(Ibrahim berdoa) “Ya Rabb-ku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang yang shalih, Dan jadikanlah aku tutur kata yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,
Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat,Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”
Demikian juga Nabi Nuh ‘alaihi salam mengatakan hal yang sama dalam surat Nuh. Kemudian Nabi Ismail ‘alaihi salam, juga Nabi Yahya ‘alaihi salam dalam surat Maryam ayat 12-15: Ambillah Al Kitab dengan sungguh-sungguh, Kami berikan kepadanya hikmah, ketika masih kanak-kanak, Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan ia adalah orang-orang yang bersih dosa dan orang-orang bertakwa. Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, bukanlah ia termasuk orang-orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan semoga atas dirinya, pada hari ia dilahirkan, pada hari ia diwafatkan, dan pada hari ia dibangkitkan.”
Kemudian dalam An Nahl ayat 19 tentang nabi Sulaiman ‘alaihi salam. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengajarkan amal shalih yang Engkau ridlai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.”
Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa bakti kepada orang tua merupakan sifat yang menonjol bagi para nabi. Semua nabi berbakti kepada kedua orang tua mereka. Dan ini menunjukan bahwa berbakti kepada orang tua adalah syariat yang umum. Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke muka bumi selain diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada Allah, mentauhidkan Allah dan menjauhi segala macam perbuatan syirik juga diperintahkan untuk menyeru umatnya agar berbakti kepada orang tuanya.
Bila diperintahkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua seperti yang tercantum dalam surat An Nisa, surat Al Isra dan surat-surat yang lainya menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah masalah kedua setelah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau selama ini yang dikaji adalah masalah tauhid, masalah aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, aqidah salaf, untuk selanjutnya wajib pula bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengkaji masalah berbakti kepada kedua orang tua. Tidak boleh terjadi pada seorang yang bertauhid kepada Allah tetapi ia durhaka kepada kedua orang tuanya, wal iyadzubillah nas alullahu salamah wal afiyah. Bagi seorang muslim terutama bagi seorang thalibul ‘ilm (penuntut ilmu), wajib baginya berbakti kepada orang tuanya.
Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua dan Pahalanya
Pertama: Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dalam amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Abu Abdirrahman Abdulah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu:
“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amal-amal paling utama dan dicintai Allah? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘pertama Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat diawal waktunya), kedua berbakti kepada kedua dua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah’.” [HR. Bukhari I/134, Muslim No. 85, Fathul Baari 2/9]
Dengan demikian jika ingin berbuat kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada orang tua).
Kedua: Bahwa ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari Sahabat dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152))
Ketiga: Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shalih tersebut. Dengan dasar hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka bertehduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua/ sebagian mereka berkata kepada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan.’ Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawasul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang sudah larut dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan berikan kepada siapapun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anakku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah.’ Maka batu yang menutup pintu gua itu pun bergeser.” [HR. Bukhari, (Fathul baari 4/449 no. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wattawasul bi Shalihil A’mal].
Ini menunjukan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawasul kepada Allah ketika kita mengalami kesulitan, insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tua.
Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua kita telah bersusah payah untuk kita, maka perbuatan ‘Si Anak’ yang ‘bergadang’ untuk memerah susu tersebut belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika mengurusnya sewaktu kecil.
Ini juga menunjukan bahwa kebutuhan kedua orang tua harus di dahulukan daripada kebutuhan anak kita sendiri. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus didahulukan dari pada berbuat baik kepada istri sebagai mana diriwayatkan oleh abdulah bin umar radliallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar bin Khatab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Rasalullah menjawab, “Ceraikan istrimu!” [HR. Abu Dawud No. 5138, Tirmidzi No. 1189 beliau berkata, “Hadits hasan shahih”]
Keempat: Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur Sebagai mana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Dari sahabat Anas radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Barang siapa yang suka diluaskan rizki dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” [HR. Bukhari 7/7, Muslim 2557, Abu Dawud 1693].
Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan silaturahmi kepada orang tua sebelim kepada yang lain. Banyak diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia selalu bersama orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua. Karena dengan dekat kepada keduanya insya Allah akan dimudahkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya.
Kelima: Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasuikkan ke jannah (surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dosa-dosa yang Allah segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada orang tua. Dengan demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah akan menghindarkannya dari berbagai mala petaka, dengan izin Allah.
Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Takala Keduanya Berusia Lanjut.
Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih disisi kita, salah satunya adalah:Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut , salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga.” [HR. Muslim 2551, Ahmad 2:254,346].
Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang telah berusia lanjut. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.
Bentuk dan Akibat Durhaka Kepada Kedua Orang Tua.
Di antara bentuk durhaka (uquq) adalah:
1. Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan ) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih atau sakit hati.
2. Berkata ‘ah dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
3. Membentak atau menghardik orang tua.
4. Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mempentingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkahpun , dilakukan dengan penuh perhitungan.
5. Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, ‘‘kolot’ dan lain-lain.
6. Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua dan lemah. Tetapi jika ‘Si Ibu’ melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.
7. Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.
8. Memasukan kemurkaan kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap Rokok, dll.
9. Mendahului taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagai orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na’udzubillah.
10. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu adalah sikap yang sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.
Akibat dari durhaka kepada kedua orang tua akan dirasakan di dunia, dan ini didasarkan pada hadits berikut:Dari Abi Bakrah radliallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku Zhalim, kedua memutuskan tali silaturrahmi.” [HR. Bukhari (Shahih Adabul Mufrad No. 23),]
Dalam hadits lain dikatakan:”Dua perbuatan dosa yang Allah sepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al ‘uquq (durhaka kepada orang tua). [HR. Hakim 4/177 dari Anas din Malik radliallahu ‘anhu].
Dapat kita lihat sekarang banyak orang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikan bahagia.
Bentuk-bentuk Bakti Kepada Orang Tua
Pertama: Bergaul kepada keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.
Kedua: yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan berbicara kepada kedua orang tua dengan kepada anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.
KetigaTawadlu (rendah diri). Tidak boleh kibir (sombong) apabila sudah meraih sukses atau atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.
Keempat: Yaitu memberi infak (shadaqah) kepada kedua orang tua. Semua harta kita adalah milik orang tua.
Kelima: Mendo’akan kedua orang tua. Sebagaimana ayat: ‘robbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiiro’ (wahai rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya.
Apabila kedua orang telah meninggal maka yang pertama kita lakukan adalah meminta ampun kepada Allah Ta’ala dengan taubat yang nasuha (benar) bila kita pernah berbuat durhaka kepada keduanya di waktu mereka masih hidup, yang kedua adalah menshalatkannya, ketiga adalah selalu meminta ampunan untuk keduanya, yangkeempat membayarkan hutang-hutangnya, yang kelima melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at dan yang keenam menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya (diringkas dari beberapa hadist yang shahih).

Penyebab Doa Tidak Terkabul

DOA
Setiap kita tentunya, sering berdoa kepada Allah. Kita memohon kepada-Nya agar hajat dan keinginan kita Ia kabulkan. Ketika kita benar-benar butuh, tidak jarang kita berdoa sambil mengiba kepada Allah. Namun barangkali tidak jarang kita merasa doa kita tidak dikabulkan, atau setidak-tidaknya tidak segera dikabulkan. Dan ketika seseorang merasa doanya tidak kunjung dikabulkan, maka ia pun tidak lagi berdoa dan tidak punya harapan bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah. Padahal sikap seperti ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Banyak orang yang berdoa kepada Allah tetapi belum dikabulkan di dunia oleh karena itu agar doa kita segera terkabul hendaknya kita mengetahui hal-hal yang dapat menyebabkan do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah, yaitu antara lain :


  • Hati lalai dan tidak yakin atas doanya
Rasulullah saw bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka janganlah ia mengatakan, Ya Allah, berilah ampunan kepadaku jika engkau menghendakinya.” Namun hendaknya meneguhkan hati (akan apa yang dimintanya) ” H.R Bukhari Muslim. Pada riwayat lain beliau bersabda : “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa (yang keluar) dari hati orang yang lalai dan main-main” (H.R Tirmidzi)
Yakin bahwa doa akan dikabulkan adalah syarat untuk terkabulnya doa. Oleh karena itu, jangan ada di antara kita yang memohon kepada Allah Taala sementara masih ada keraguan terkabulnya doa-doa yang ia panjatkan. Dengan kata lain, seorang muslim tidak selayaknya bermain main dalam doanya namun ia harus mampu mengutarakannya dengan penuh khusyu. Salah seorang Tabiin pernah berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui kapan doaku akan dikabulkan.” Orang-orang yang berada di sekitarnya bertanya. Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Tabiin itu menjawab, yaitu ketika hatiku khusyu’, anggota-anggota badanku juga khusyu’ dan mataku pun mengeluarkan air mata. Maka pada saat itu aku akan berkata, Doa ini akan dikabulkan”.
  • Makan, minum, dan berpakaian didapatkan dari yang haram.
Makan, minum dan pakaian haram meruapakan salah satu penyebab doa tidak terkabul. Rasulullah saw. Menceritakan tentang, seorang lelaki yang kotor dan berdebu, (yang berada dalam) sebuah perjalanan yang jauh, mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata, “Ya Tuhanku…, Ya Tuhanku…. Namun, perutnya (dipenuhi minuman) yang haram, tempat makannya (dipenuhi makanan) yang haram, pakaiannya berasal dari (pakaian) yang haram, dan ia mengkonsumsi haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan”. (H.R Abu Daud, Nasa’i dan Ahmad)
Dalam riwayat lain, Beliau menyebutkan ada seseorang yang letih dalam perjalanannya, rambutnya berantakan, dan kakinya berpasir, seraya dia menengadahkan kedua tanganya ke langit dan berkata, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram, maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan. (HR. Muslim no. 1015)
Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kaum mukminin dengan perintah yang juga Dia tujukan kepada para rasul, ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (QS. Al-Mukminun: 51)
  • Tidak sabar dan terburu-buru doa ingin segera dikabulkan.
Hadist riwayat Abu Hurairah r.a.: bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Akan dikabulkan doa seseorang di antara kamu sekalian selama dia tidak terburu-buru berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi do’aku tidak atau belum dikabulkan.’” (Shahih Muslim No.4916)
“Tiada seorang berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a, kecuali dikabulkan-Nya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa.” (HR. Ath-Thabrani)
  • Bermaksiat, meninggalkan kewajiban, dan membiarkan suatu kejahatan.
“Hendaknya kalian memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan siksaNya kepada kalian, lalu kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi).
  • Tidak mau menolong orang yang sedang kesempitan (kesusahan).
“Barangsiapa ingin agar do’anya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan.” (HR. Ahmad)
  • Lupa memuji Allah dan membaca Sholawat Nabi sebelum berdoa.
“Jika salah seorang di antara kamu berdoa, hendaknya memulai dengan memuji dan menyanjung Tuhannya, dan bershalawat kepada Nabi, kemudian berdoa apa yang dia kehendaki.” (H.r. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad).
Dari Ali r.a. ia berkata, “Setiap do’a terhalang, sehingga diucapkan shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad.” (H.r. Ath-Thabrani)
  • Lupa mendoakan saudara muslim yang lainnya.
Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Darda r.ha., bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata : aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (Kitab Shahih Muslim no. 2733)
Dari Syaqiq Al Balkhi berkata : “Suatu hari Ibrahim Bin Adham (Abu Ishaq) berjalan di pasar basrah lalu ia dikelilingi oleh orang ramai dan mereka bertanya kepadanya : “Wahai Abu Ishaq, apa sebab kami selalu berdoa namun tidak pernah dikabulkan.?” Bukankah Allah SWT telah berfirman : “Mintalah olehmu sekelian kepada Ku niscaya Aku kabulkan”. Dan kami telah satu tahun berdoa dan doa kami belum dikabulkan !”. Ibrahim bin Adham menjawab : “Bagaimana Allah hendak mengkabulkan doa kamu sedangkan hati kamu tertutup oleh 10 perkara”.
  1. Engkau mengenali Allah, tetapi tidak menunaikan hak-Nya
  2. Engkau membaca kitab Allah, tetapi tidak mau mempraktikkan isinya
  3. Engkau mengaku bermusuhan dengan iblis, tetapi mengikuti tuntunanya
  4. Engkau mengaku cinta Rasul, tetapi meninggalkan tingkah laku dan sunnah beliau
  5. Engkau mengaku senang surga, tetapitidak berbuat menuju kepadanya
  6. Engkau mengaku takut neraka, tetapi tidak mengakhiri perbuatan dosa
  7. Engkau mengakui kematian itu hak, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya
  8. Engkau asyik meneliti aib-aib orang lain, tetapi melupakan aib-aib dirimu sendiri
  9. Engkau makan rezeki Allah, tetapi tidak bersyukur pada-Nya
  10. Engkau menguburkan orang-orang, tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.
Berdasakan paparan diatas, hendaknya kita berusaha menghindari hal tersebut. Selain itu agar doa kita terkabul, hendaknya kita memperhatikan adab adab dalam berdoa. Untuk penjelasannya, sahabat bisa baca adab-adab berdoa disini. Wallahu a’lam